Showing posts with label pasca persalinan. Show all posts
Showing posts with label pasca persalinan. Show all posts

Monday, May 3, 2010

Plus Minus Persalinan Dalam Air (water birthing)

Plus Minus Persalinan Dalam Air (water birthing)

Jakarta, Banyak cara yang dilakukan oleh para ibu hamil untuk mengurangi rasa nyeri yang akan menyerang saat proses persalinan. Kini waterbirth (persalinan dalam air) banyak dipilih oleh perempuan hamil untuk melahirkan.

Waterbirth adalah proses melahirkan di dalam air, pada proses tersebut ibu yang akan melahirkan berendam dalam suatu bak berisi air hangat yang steril hingga melahirkan. Air dipercaya memiliki efek pengobatan dan dapat memperpanjang kehidupan.

"Air mempengaruhi efek gravitasi, dimana dengan adanya perbedaan berat jenis antara manusia dengan air, maka tubuh manusia akan merasa lebih ringan bila berada di air," ujar Dr. med. dr. Damar Pramusinto, SpOG(K), dalam acara seminar Persalinan Tanpa Nyeri Persalinan Nyaman di Aula FK-UI, Jakarta.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa melahirkan di air tidak memberikan efek luaran yang berbeda dengan melahirkan di darat. Berendam di air juga menjadi cara yang aman untuk mengurangi edema dan menurunkan tekanan darah.
"Air hangat yang digunakan akan membuat otot-otot menjadi lebih rileks dan nyeri akan terasa berkurang," tambahnya. Air hangat juga akan membuat pembuluh darah melebar dan meningkatkan hantaran saraf, metabolisme jaringan setempat, dan meningkatkan suhu jaringan.

Persalinan di air yang didampingi dengan tenaga kesehatan akan menurunkan keperluan intervensi obstetri dan merupakan alternatif strategi mengatasi nyeri. Untuk persalinan normal, berendam dalam air akan mengurangi pemberian analgesia dan meningkatkan kepuasan.

"Peningkatan rasa nyaman pada sang ibu akan membuat rasa cemas berkurang dan mengurangi produksi hormon stres (katekolamin dan noradrenalin), dan meningkatkan hormon oksitosin dan endorfin sehingga persalinan menjadi lebih lancar," ungkap dokter yang juga sebagai Staf Divisi Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM.

Tapi risiko yang bisa dihadapi jika melakukan persalinan di air adalah terjadi peningkatan risiko infeksi, sulit untuk mengontrol jumlah darah yang hilang, memonitor janin lebih longgar dan kadang kontraksi menjadi tidak efektif.

Sementara pada bayi memiliki risiko seperti aspirasi air (air masuk ke paru-paru), hipoksia (kekurangan oksigen), peningkatan infeksi, dan keterlambatan pertolongan bila terjadi sesuatu yang gawat pada janin. Pada proses ini juga boros dalam penggunaan air.

Dr. Damar juga mengingatkan, ibu yang ingin melahirkan di air sebaiknya kehamilannya adalah kehamilan tunggal. Ibu tidak memiliki kontraindikasi untuk melahirkan di air, pastikan bahwa janin sejahtera, dan tidak punya riwayat melahirkan secara cesar.

Saat melahirkan di air ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Ibu harus cukup minum supaya tidak dehidrasi.
2. Temperatur air antara 35-38 derajat Celcius, supaya tetap nyaman, mencegah dehidrasi, dan pemanasan berlebih.
3. Harus ada yang mengawasi selama ibu berada di bak.
4. Bila ibu berendam lebih dari 2 jam, efisiensi kontraksi dapat berkurang.
5. Bokong dapat diangkat dari air untuk mendengarkan denyut jantung janin atau untuk pemeriksaan persalinan.
6. Penolong harus menggunakan pelindung diri yang memenuhi syarat untuk mencegah infeksi.
7. Setelah bayi lahir, segera dibawa ke permukaan.


Sebelum memutuskan untuk melakukan persalinan di air, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter untuk mengetahui apakah ibu memenuhi syarat untuk melakukannya. Pastikan bahwa bak yang akan digunakan benar-benar steril dan terawat serta menggunakan air mengalir. detikhealth
Read More..

Wednesday, April 21, 2010

Stres Ibu pasca Persalinan

Ibu Baru, Supaya Tidak Stres

Kebahagiaan yang meluap karena hadirnya bayi tak jarang membuat ibu baru merasa tidak nyaman dan tertekan. Ia harus beradaptasi dengan jadwal rutin bayinya, sementara setumpuk pekerjaan rumah tidak bisa ditunda.

Masa-masa transisi ini memang melelahkan, tapi bisa Anda lalui asal Anda cerdik menyiasati masalah. Ayo berdamai dengan situasi ini, caranya:
  1. Perhatikan alarm biologis. Waspadai jika Anda merasa cepat lelah dan sedih, ini merupakan alarm biologis Anda menerima tekanan berlebih. Menurut psikolog, tekanan biologis ibu baru berasal dari kombinasi waktu istirahat yang kurang, pekerjaan yang bertambah, dan keterikatan melakukan pekerjaan-pekerjaan itu.
  2. Realistis dan susun prioritas. Sebagai sosok multiperan, seorang ibu cenderung ingin memberi yang terbaik bagi keluarga. Cobalah realistis dan susun prioritas. Sebagai ibu baru, sebaiknya Anda hanya mengerjakan yang penting, selain mengurus bayi.
  3. Berbagi tugas. Ibu biasanya paling tahu prioritas dan detil kebutuhan keluarga. Jadi, berlakulah sebagai manajer yang baik dan berbagi tugas. Ajak seluruh anggota keluarga berpartisipasi.
  4. Istirahat dan relaksasi. Seperti orang-orang di sekelilingnya, ibu juga butuh istirahat. Sesuaikan jadwal istirahat dengan rutinitas bayi, tidurlah saat bayi tidur. Untuk relaksasi, Anda bisa gunakan aromaterapi dan meditasi, serta olahraga ringan.
  5. Cukup gizi serta makanan yang lezat. Jangan telat makan karena kelelahan atau sibuk. Makanlah makanan yang rendah lemak, tapi kaya karbohidrat, atau makanan yang mengandung protein, agar dapat memicu produksi sejenis hormon di otak yang meredakan ketegangan.
  6. Mengobrol. Sediakan waktu untuk berhubungan dengan sahabat, bisa dengan bertemu langsung, melalui telepon, sms, atau email. Jangan sungkan berbagi pemikiran atau sekadar bercerita pada sahabat.
  7. Mengurus diri sendiri. Setelah sepanjang hari mengurus keperluan keluarga dan merawat bayi, sisakan sedikit waktu untuk diri sendiri sekalipun cuma 15 menit. Tak harus khusus, saat mandi pun bisa menjadi me time. Pilihlah aktivitas apa pun yang Anda suka untuk dinikmati sendiri.

Cobalah memandang peran baru ini dari sudut pandang yang berbeda. Jangan terpaku pada tugas merawat bayi selain tugas rutin lainnya. Nikmati masa ini sebagai awal hubungan Anda dengan bayi hingga ia dewasa.

http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/Kelahiran/ibu.baru.supaya.tidak.stres/001/007/237/1/3
Read More..

Gangguan Emosi Pada Kehamilan

Gangguan Mood Si Calon Ibu

Wow, siapa sih tak bahagia mendapati tanda positif pada alat tes kehamilan. Setelah itu akan banyak yang dialami seorang ibu hamil, termasuk berbagai perasaan yang dialami.
Seperti tiba-tiba menitikkan air mata tanpa sebab, atau memikirkan kesehatan si janin sampai tak bisa tidur.

“Akar” Baby Blues. “Selama hamil, sangat normal apabila calon ibu mengalami mood swing, emosi dan suasana hati yang naik-turun secara fluktuatif. Sebagian besar ibu hamil mengalaminya, hanya saja ada yang ringan, dan ada yang ekstrim. Penyebab secara internal, perubahan tubuh dan hormonal ibu hamil,” jelas Dra. Risa Kolopaking, MSi., psikolog pada RSIA Hermina Bekasi. Di samping itu tentu ada faktor psikologis yang juga bisa mencetus.

Meskipun mood swing adalah hal umum bagi sebagian besar ibu hamil, namun 1 dari 10 ibu hamil yang mengalaminya, dapat mengalami fluktuasi ekstrim dan mengalami masalah yang signifikan, demikian ungkap sebuah majalah Australia.

Berikut beberapa tanda yang perlu dicermati:

  • Kehamilan tak diinginkan
  • Kehamilan berisiko
  • Jarak kehamilan yang terlalu dekat
  • Riwayat keguguran
  • Kehamilan normal tapi punya pengalaman anak pertama sakit berat atau pengalaman mengasuh anak pertama sulit

Anda tak sendirian. Benarkah semakin calon ibu banyak tahu dan kritis dengan berbagai perkembangan, prevalensi terjadinya pre-baby blues makin besar? “Memang belum ada studi yang berkait dengan hal ini, tapi dari pengalaman saya di lapangan, ini banyak saya termukan. Menariknya, ini khas ibu-ibu perkotaan. Sebab, pengetahuan yang diterima calon ibu sebelum dan selama hamil banyak secara jumlah tapi sayangnya tidak utuh,” ungkap Risa.

Akibat memiliki banyak pengetahuan, kesadaran ibu meningkat. Tetapi tanpa informasi yang utuh, kesadaran yang awalnya merupakan hal baik berbalik menimbulkan “tekanan” pada diri ibu. Ibu ingin agar anaknya mendapat stimulasi tepat, terhindar dari penyakit, ingin segalanya serba sempurna. “Sudah begini, ibu sebaiknya banyak berdiskusi dengan orang yang ahli di bidangnya, agar dapat gambaran yang utuh. Apabila menyangkut penyakit anak, berdiskusilah dengan dokter anak, seputar gizi tanyalah pada ahli gizi dan seterusnya,” lanjut ibu yang ditempa oleh pengalaman hamil dan membesarkan 3 putra-putri ini.

Meskipun calon ibu tak menyadari adanya perubahan emosi yang fluktuatif bahkan ketika telah terakumulasi menjadi depresi, setiap ayah dan ibu harus menerima kenyataan bahwa perubahan yang dialami ibu hamil, tak hanya sebatas perubahan fisik. Mood swing adalah perubahan pada tataran psikologis yang umum dialami sebagian besar ibu hamil. Anda dan pasangan memang tak perlu membesar-besarkan masalah ini, namun fenomena ini tak boleh diabaikan.

Masa trimester pertama, saat perubahan besar-besaran, calon ibu mengalami morning sickness disertai mood swing yang cukup menyolok. Memasuki trimester kedua, calon ibu biasanya sudah mulai beradaptasi. Memasuki trimester tiga,sekitar usia kehamilan 7 – 8 bulan, mood swing hebat bisa menghinggapi calon ibu.

“Sebagian ibu hamil, justru baru mengalami mood swing di trimester terakhir. Di antaranya, karena kelelahan fisik mencapai puncaknya, rasanya seperti “bisul” yang mau pecah. Selain itu, muncul pula rasa bosan terhadap kondisi fisik yang serba kurang nyaman ini. Apabila ibu hamil mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kondisi ini, mood swing parah bisa dihindari, bahkan diminimalkan,” jelas Risa.

Memiliki bekal pengetahuan yang banyak ternyata tidaklah cukup. Belajar menerima mengenali dan beradaptasi dengan perubahan adalah kunci sukses menjadi ibu dan ayah baru. Sudah terlanjur kurang menyadarinya?! Tak perlu merasa bersalah. Apapun pengalaman Anda selama bertransformasi jadi orang tua adalah “guru” terbaik bagi Anda dan si kecil.
iwa, tingkatan paling parah dari fluktuasi emosi dan psikologis ibu hamil ini disebut sebagai gejala pre-baby blues atau mood disorder, yang apabila terakumulasi bisa menjadi depresi. Bukan hanya karena memiliki ciri yang mirip dengan baby blues, yang dialami ibu setelah melahirkan. Istilah ini juga mengacu pada hasil temuan para psikiater, apabila tak terdeteksi dini dan ditangani dengan tuntas, bisa menjadi “akar” dari baby blues atau post partum depression.

Dukunglah calon ibu. “Selama calon ibu mendapat cukup dukungan dari orang-orang sekitar, merasa bahagia, memiliki pandangan positif terhadap kehamilan, didampingi orang-orang yang berpandangan positif terhadap kehamilan, juga suami yang memberi ketenangan, perhatian dan kasih sayang, ia akan survive. Yang tak boleh dilupakan: asupan zat gizi dan istirahat yang cukup,” tambah psikolog perkembangan yang sedang menyelesaikan studi S3 bidang gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Yang singkat, yang lama. Bagaimana cara membedakan mood swing biasa dengan depresi kehamilan? Tentu calon ibu dan ayah perlu teliti membaca beberapa tanda. Apabila Anda mengalami beberapa hari suasana hati yang kelabu atau cemas, tak perlu terlalu khawatir. Ini masih taraf normal. Tapi jika Anda mengalaminya lebih dari seminggu bahkan beberapa minggu dan tak bisa mengendalikan diri, cepatlah cari bantuan.

Risa mengungkap checklist tanda “siaga satu” yang harus dicermati calon ibu dan ayah, berikut:

  • calon ibu tidak bisa berkonsentrasi, mengingat, atau mengambil keputusan
  • mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari
  • mengganggu hubungan calon ibu dengan orang-orang sekitarnya
  • calon ibu tak bisa mengurus diri sendiri, keluarga dan anak (apabila kehamilan kedua)
  • kondisi calon ibu mengancam keselamatan janin (misalnya, menolak makan, atau makan berlebihan, sampai keinginan untuk bunuh diri)

Cari bantuan. Bantuan bisa diperoleh dari dokter kandungan, psikolog dan apabila diperlukan, ibu bisa konsultasi dengan psikiater. Biasanya konsultasi dengan psikolog sudah cukup. Dari seorang psikolog, calon ibu bisa mendapatkan bimbingan perilaku, cara pandang dan advis yang menenangkan agar ibu bisa berperasaan positif. Bedanya, konsultasi dengan psikiater, selain advis, apabila diperlukan, ibu akan memperoleh antidepresan dalam dosis rendah agar depresi ibu terkendali tetapi tak membahayakan janin.


Read More..